STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE DAN SAMPAN LEPER DENGAN PENDEKATAN HEPTA-HELIX DI KELURAHAN PEKAN ARBA KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU

Authors

  • Arief Rachman. B Mahasiswa Program Dotor Ilmu Kelautan, Universitas Riau, Pekanbaru, Indonesia
  • Dessy Yoswaty Dosen Program Dotor Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru, Indonesia
  • Yusni Ikhwan Siregar Dosen Program Dotor Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru, Indonesia
  • Ridar Hendri Dosen Program Dotor Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru, Indonesia

Keywords:

Strategi, Ekowisata, Mangrove, Sampan Leper, Hepta-Helix

Abstract

Ekosistem mangrove dan sampan leper merupakan salah satu ciri dari kawasan pesisir Kelurahan Pekan Arba Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau. Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai macam makhluk hidup seperti ikan, burung, reptil dan mamalia. Selain itu ekosistem mangrove yang identik dengan perairan dangkal dan berlumpur membentuk aliran-aliran anak sungai di celah-celah vegetasinya. Kondisi ekosistem mangrove ini memicu munculnya pemikiran kreatif dari masyarakat untuk mengembangkan transportasi air yang dapat berjalan di atas air maupun di atas lumpur sehingga muncullah teknologi sampan leper. Ekosistem mangrove dan sampan leper ini menjadi salah satu potensi daya tarik untuk berwisata ke Kelurahan Pekan Arba. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi pengembangan ekowisata mangrove dan sampan leper di Kelurahan Pekan Arba. Metode pengumpulan data pendekatan survei, observasi dan wawancara, sedangkan analisis data menggunakan analisis hepta-helix. Hasil pengamatan dari unsur Hepta-helis didapatkan: 1) Aktor Akademisi: belum adanya riset dan pembinaan dari akademisi, 2) Aktor Pemerintah: sudah adanya dukungan dari UPT KPH Mandah dan Kementrian Lingkungan Hidup, belum adanya program pengembangan ekowisata mangrove dan sampan leper dari Pemerintah Kabupaten Idnr Kagiri Hilir, 3) Aktor Bisnis: Belum adanya produk, barang dan jasa pendukung ekowisata, 4) Aktor Komunitas: Belum adanya kelompok sadar wisata, 5) Aktor Media: masih kurang sorotan media dan promosi media sosial, 6) Aktor Hukum: sudah adanya legalitas lahan, 7) Aktor Religi: Perlunya penerapan nilai islam dalam pengembangan ekowisata. Strategi yang perlu dilakukan adalah: membentuk kelompok sadar wisata, melakukan pendekatan dengan perguruan tinggi, mengembangkan barang dan jasa ekowisata, pengembangkan program kerja pengelolaan ekowisata, dan meningkatkan promosi potensi ekowisata

Downloads

Published

2026-02-21

Conference Proceedings Volume

Section

Artikel

Categories