REDEFINISI DINAMIKA SAFE-HAVEN:

PEMODELAN TRANSISI REZIM VOLATILITAS PASAR KRIPTO MENGGUNAKAN HYBRID DEEP LEARNING PASCA GUNCANGAN HARGA EMAS

Authors

  • Ratu Chairunisa Program Studi Statistika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Terbuka, Indonesia
  • Diena Rauda Ramdania Program Studi Teknik Informatika, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia

Keywords:

GJR-GARCH, Kripto, LSTM, Safe-Haven, Transisi Rezim

Abstract

Dinamika pasar keuangan global yang terus bergeser menantang peran tradisional aset safe-haven seperti emas, terutama di tengah gejolak volatilitasnya baru-baru ini. Fenomena ini membuka ruang bagi aset alternatif seperti mata uang kripto untuk ditinjau kembali perannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendefinisikan ulang dan memodelkan dinamika safe-haven pada empat aset kripto teratas sebagai respons terhadap guncangan harga emas yang sering terjadi belakangan ini. Dengan menggunakan pendekatan dualistik, penelitian ini membandingkan kemampuan pemodelan dari model ekonometrika konvensional, yaitu Glosten–Jagannathan–Runkle Generelized Autoregressive Conditional Heteroskedasticity atau disingkat menjadi GJR-GARCH yang mampu menangkap respons asimetris terhadap guncangan positif maupun negatif dengan arsitektur deep learning Long Short-Term Memory (LSTM) yang unggul dalam mengidentifikasi pola non-linear dan dependensi jangka panjang. Data yang digunakan adalah data harian berfrekuensi tinggi hingga periode terkini yang diambil dari yahoo finance. Penelitian ini menguji hipotesis peralihan tindakan investor menuju kripto sebagai "safe-haven spekulatif" melalui analisis guncangan harga emas terhadap empat asset kripto teratas saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata performa dari model hybrid GJR-GARCH-LSTM mencapai akurasi superior (95%) dalam memprediksi regime transition volatility, serta mengungkapkan kategori baru "Safe-Haven Spekulatif" karena asset kripto menunjukkan return positif signifikan (1.27%-15.10%) dengan volatilitas yang meningkat saat terjadi gold shock. Secara empiris, temuan ini mengkonfirmasi transmisi guncangan melalui tiga channel temporal berbeda (1-4 jam contagion sentiment, 10-15 jam rebalancing institusional, 16-24 jam amplifikasi algoritmik),memberikan bukti bahwa aset kripto lebih cocok sebagai strategi instrument spekulasi berbasis rezim daripada diversifier strategis jangka panjang dalam portofolio modern

Downloads

Published

2026-02-21

Conference Proceedings Volume

Section

Artikel

Categories